Senin, 26 Maret 2012

CERITA HIKMAH TENTANG TANAMAN APEL DENGAN SEORANG ANAK KECIL
Si Pohon Apel Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali.. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua… Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.


Senin, 12 Desember 2011

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
“PENGENALAN ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM KIMIA”





DISUSUN OLEH:
DEDIKUSWARA
4442090098
KELOMPOK 3




AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA



Bab I
Pendahuluan

1.1.Latar belakang masalah
Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen. Kegiatan eksperimen atau praktikum menitikberatkan pada ranah psikomotor yang berupa penampilan dan berhubungan dengan aktifitas fisik. Oleh karena pelaksanaan praktikum melibatkan alat-alat, maka perlu penguasaan tentang alat-alat praktikum sehingga dapat menunjang kelancaran praktikum dan meningkatkan kemampuan psikomotorik peserta ajar.
Pengetahuan alat merupakan salah satu faktor yang penting untuk mendukung kegiatan praktikum. Siswa akan terampil dalam praktikum apabila mereka mempunyai pengetahuan mengenai alat-alat praktikum yang meliputi nama alat, fungsi alat, dan cara menggunakannya. Pengetahuan alat yang kurang akan mempengaruhi kelancaran saat praktikum. Sebagai contoh, selama praktikum siswa dilibatkan aktif dengan pemakaian alat dan bahan kimia. Siswa yang menguasai alat dengan baik akan lebih terampil dan teliti dalam praktikum sehingga siswa memperoleh hasil praktikum seperti yang diharapkan (Laila, 2006).
Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen. Kegiatan eksperimen atau praktikum menitikberatkan pada ranah psikomotor yang berupa penampilan dan berhubungan dengan aktifitas fisik. Oleh karena pelaksanaan praktikum melibatkan alat-alat, maka perlu penguasaan tentang alat-alat praktikum sehingga dapat menunjang kelancaran praktikum dan meningkatkan kemampuan psikomotorik peserta ajar.
Pengetahuan alat merupakan salah satu faktor yang penting untuk mendukung kegiatan praktikum. Siswa akan terampil dalam praktikum apabila mereka mempunyai pengetahuan mengenai alat-alat praktikum yang meliputi nama alat, fungsi alat, dan cara menggunakannya. Pengetahuan alat yang kurang akan mempengaruhi kelancaran saat praktikum. Sebagai contoh, selama praktikum siswa dilibatkan aktif dengan pemakaian alat dan bahan kimia. Siswa yang menguasai alat dengan baik akan lebih terampil dan teliti dalam praktikum sehingga siswa memperoleh hasil praktikum seperti yang diharapkan (Laila, 2006)

1.2.Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
·         Untuk mengenal alat-alat dan bahan  laboratorium yang digunakan dalam laboratorium kimia
·         Menggolongkan alat-alat laboratorium menjadi beberapa kategori
·         Mengetahui dan dapat membedakan bahan-bahan yang  berbahaya

















Bab II
Tinjauan Pustaka
Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya.Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer,hygrometer dan spektrofotometer,dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph,barograph ( Moningka, 2008).
Dari uraian tersebut,tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan (Moningka,2008). Mikroskop adalah alat yang paling khas dalam laboratorium mikrobiologi yang memberikan perbesaran yang membuat kita dapat melihat struktur mikroorganisme yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Mikroskop yang tersedia menungkinkan jangkauan perbesaran yang luas dari beberapa kali hingga ribuan kali (Lay,1994).










Bab III
Metodologi

3.1. Waktu   dan Tempat
Waktu             : 16:30-17.30 WIB
Tempat            : Laporan Praktikum Kimia Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

3.2.  Alat dan Bahan

1.      Botol semprot
biasanya digunakan untuk menympan aquades dan digunakan untuk mencuci ataupun membilas bahan-bahan yang tidak larut dalam air. Selain itu digunakan juga untuk mencuci atau menetralkan peralatan-peralatan yang akan digunakan. Cara menggunakan: menekan botol maka aquades akan keluar.
clip_image004



Berguna untuk mengukur volume suatu cairan, seperti labu erlenmeyer, gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya. Pada saat mengukur volume larutan, sebaiknya volume tersebut ditentukan berdasarkan meniskus cekung larutan.

2.      Pengaduk 
Batang gelas, dengan ujung bulat dan ujung yang lain pipih. Panjang 15 cm

3.      Gelas ukur 100 ml
Gelas dengan penutup. Dasar bundar, Tingkatan: untuk siswa. Kapasitas: 100 ml.
 Kegunaan
Untuk mengukur volume larutan

4.      Pipet tetes
Bahan:Gelas. Panjang: 150 mm dengan karet kualitas baik.
 Kegunaan
Untuk meneteskan larutan dengan jumlah kecil

5.      Rak tabung reaksi
Bahan: Plastik , jumlah lubang: 40 , diameter: 16 mm
 Kegunaan
Tempat tabung reaksi

6.      Tabung reaksi
Bahan: gelas borosilikat, Ukuran: 15 x 150mm. Per pak 50 buah.
 Kegunaan
Untuk mereaksikan zat

7.      Gelas Beker
Beker atau kadangkala disebut sebagai gelas beker adalah sebuah wadah penampung yang digunakan untuk: -mengaduk - mencampur - memanaskan cairan yg biasanya digunakan dlm laboratorium. Beker secara umum berbentuk silinder dengan dasar yang bidang dan tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 1 mL sampai beberapa liter. Beker dapat terbuat dari kaca (umumnya kaca borosilikat ataupun dari plastik. Beker yang digunakan utk menampung zat kimia yang korosif seperti asam atau zat- zat lainnya yang sangat reaktif biasanya terbuat dari PTFE ataupun bahan-bahan yg reaktivitasnya rendah. Beker dapat ditutup dengan kaca pengamat untuk mencegah kontaminasi dan penyusutan zat. Beker seringkali dibubuhi dengan ukuran yang terdapat pada sisi beker yang mengindikasikan volume tertampung. Sebagai contoh, beker dengan volume 250 mL ditandai dengan garis-garis yg mengindikasikan volume zat tertampung sebesar 50, 100, 150, 200, dan 250 mL. Keakuratan ukuran ini sangat bervariasi. Beker berbeda dgn labu laboratorium terlihat dari sisinya yang lurus dan bukannya miring. Biasanya beker lebih sering digunakan dlm percobaan kimia dasar. Beker dlm berbagai ukuran volume

8.      Pipet ukur
Pipet ukur merupakan alat utk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang dipindahkan dikeluarkan mengikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar.


9.      Kaca preparat
Kaca preparat adalah sejenis kaca yang berbentuk persegi panjang yang berfungsi untuk mengamati objek yang di teliti menggunakan microscop.

10.  Buret
Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang memiliki garis ukur dan sumbat keran pada bagian bawahnya. Ia digunakan untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi. Buret sangatlah akurat, buret kelas A memiliki akurasi sampai dengan 0,05 cm Menggunakan buret Oleh karena presisi buret yang tinggi, kehati-hatian pengukuran volume dengan buret sangatlah penting untuk menghindari galat sistematik. Ketika membaca buret, mata harus tegak lurus dengan permukaan cairan untuk menghindari galat paralaks. Bahkan ketebalan garis ukur juga mempengaruhi; bagian bawah meniskus cairan harus menyentuh bagian atas garis. Kaidah yang umumnya digunakan adalah dengan menambahkan 0,02 mL jika bagian bawah meniskus menyentuh bagian bawah garis ukur. Oleh karena presisinya yang tinggi, satu tetes cairan yang menggantung pada ujung buret harus ditransfer ke labu penerima, biasanya dengan menyentuh tetasan itu ke sisi labu dan membilasnya ke dalam larutan dengan pelarut.

11.  Pipet Ukur (Measuring Pipette)
Adalah alat yang terbuat dari gelas, berbentuk seperti gambar disamping. Pipet ini memiliki skala. Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu. Gunakan bulp atau pipet pump untuk menyedot larutan, jangan dihisap dengan mulut.

12.  Labu ukur
Labu ukur adalah sebuah perangkat yg memiliki kapasitas antara 5 mL sampai 5 L dan biasanya instrumen ini digunakan utk mengencerkan zat tertentu hingga batas leher labu ukur. Alat ini biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yg nantinya hanya digunakan dlm ukuran yg terbatas hanya sbg sampel dgn menggunakan pipet. Dalam sistem pengenceran, untuk zat yg tidak berwarna, penambahan aquadest sampai menunjukkan garis meniskus berada di leher labu. Untuk zat yg berwarna, penambahan aquadets hingga dasar meniskus yg menyentuh leher labu ( meniskus berada di atas garis leher ). Sebelum menggunakan instrumen ini, labu ukur harus dicuci terlebih dahulu. Lebih baik menggunakan sabun agar zat - zat yang tidak dibutuhkan dapat terlarut dan akhirnya terbuang. Dalam keadaan bagaimanapun, labu ukur yang kering sangatlah baik utk digunakan. Dalam rangka melakukan kerja rutin di laboratorium, tidaklah luar biasa untuk memiliki larutan encer atau mengurangi kepekatan mereka dengan menambahkan sejumlah pelarut. Banyak bahan kimia laboratorium dibeli dalam bentuk larutan air yang pekat karena inilah cara pembelian yg plg ekonomis. Tetapi biasanya bahan kimia ini terlalu pekat untuk langsung digunakan, dan karenanya hrs diencerkan.

 Ada beberapa langkah dalam mempersiapkan suatu larutan dgn molaritas tertentu: - Zat terlarut ditimbang teliti ke dalam sebuah labu volumetri ( labu ukur ). -Ditambahkan air suling. -Campuran digoyang melingkar ( diolek ) untuk melarutkan zat terlarut Setelah ditambahkan air lagi ,digunakan pipet tetes untuk menambahkan air dengan hati - hati sampai volume permukaan cairan tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu. -Labu disumbat dan kemudian dikocok agar larutan seragam.

13.  Bulb
Bulb Filler adalah alat untuk menyedot larutan yang dapat dipasang pada pangkal pipet ukur. Karet sebagai bahan filler merupakan karet yang resisten bahan kimia. Filler memiliki 3 saluran yang masing-masing saluran memiliki katup. Katup yang bersimbol A (aspirate) berguna untuk mengeluarkan udara dari gelembung. S (suction) merupakan katup yang jika ditekan maka cairan dari ujung pipet akan tersedot ke atas.




















Bab IV
4.1. Hasil Pengamatan

4.2. Pembahasan
PEMBAHASAN

Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen. Kegiatan eksperimen atau praktikum menitikberatkan pada ranah psikomotor yang berupa penampilan dan berhubungan dengan aktifitas fisik. Oleh karena pelaksanaan praktikum melibatkan alat-alat, maka perlu penguasaan tentang alat-alat praktikum sehingga dapat menunjang kelancaran praktikum dan meningkatkan kemampuan psikomotorik peserta ajar
Secara umum, peralatan di laboratorium berupa bahan yang terbuat dari gelas / kaca. Hanya beberapa alat pendukung yang terbuat dari karet, kayu, ataupun besi. Misalnya peralatan gelas dapat dikelompokkan sesuai dengan fungsi dan ukurannya :

a.       Peralatan dasar berbagai jenis dan ukuran : gelas beaker, gelas ukur, erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi, botol, dll.
b.      Peralatan ukur berbagai jenis dan ukuran : labu ukur, pipet, buret, botol,BOD, dll.
c.       Peralatan analisis : termometer, piknometer, dll.
d.      Adapun beberapa contoh alat pendukung yang dimaksud misalnya : bul pipet ( karet ) dan spatula (kayu, besi).

Uraian alat-alat tersebut bsudah dijelaskan  diatas tentang peralatan yang ada di laboratorium kimia , khususnya yang diamati pada praktikum minggu lalu.
1.      Erlenmeyer
Erlenmeyer merupakan peralatan gelas yang memiliki bentuk seperti tabung yang membesar / mengelembung cekung pada bagian bawah nya. Erlenmeyer merupakan peralatan yang cukup sering digunakan untuk mereaksikan zat – zat kimia dan untuk keperluan titrasi. Pada laboratorium pengolahan pangan alat ini memiliki fungsi lain yakni sebagai tempat pembuatan media. Ukuran volume alat ini ada yang 100ml dan 250 ml.Mulut kecil pada ujungnya membuat jumlah udara yang masuk kecil sehingga tepat digunakan untuk mereaksikan zat.

 2. Labu ukur
Labu Ukur adalah sebuah perangkat yang meiliki kapasitas antara 5 mL sampai 5 L dan biasanya instrumen ini digunakan untuk mengencerkan zat tertentu hingga batas leher labu ukur. Alat ini biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya digunakan dalam ukuran yang terbatas hanya sebagai sampel dengan menggunakan pipet.
Dalam sistem pengenceran, untuk zat yang tidak berwarna, penambahan aquadest sampai menunjukkan garis meniskus berada di leher labu. Untuk zat yang berwarna, penambahan aquadets hingga dasar meniskus yang menyentuh leher labu ( meniskus berada di atas garis leher)
Sebelum menggunakan instrumen ini, labu ukur harus dicuci terlebih dahulu. Lebih baik menggunakan sabun agar zat – zat yang tidak dibutuhkan dapat terlarut dan akhirnya terbuang. Dalam keadaan bagaimanapun, labu ukur yang kering sangatlah baik untuk digunakan.
Pengenceran dengan Labu Ukur
Dalam rangka melakukan kerja rutin di laboratorium, tidaklah luar biasa untuk memiliki larutan encer atau mengurangi kepekatan mereka dengan menambahkan sejumlah pelarut. Banyak bahan kimia laboratorium dibeli dalam bentuk larutan air yang pekat karena inilah cara pembelian yang paling ekonomis. Tetapi biasanya bahan kimia ini terlalu pekat untuk langsung digunakan, dan karenanya harus diencerkan. Proses pengenceran melibatkan pencampuran suatu larutan pekat dengan pelarut tambahan untuk memberikan volume akhir yang lebih besar. Selama proses ini, banyak mol yang dalam larutan tetap, dan hanya volumenya yang bertambah. Fakta ini mebentuk dasar untuk mengerjakan soal yang mebahas pengenceran. Ada beberapa langkah dalam mempersiapkan suatu larutan dengan molaritas tertentu:

 * Zat terlarut ditimbang teliti ke dalam sebuah labu volumetri ( labu ukur ).
 * Ditambahkan air suling.
 * Campuran digoyang melingkar ( diolek ) untuk melarutkan zat terlarut Setelah ditambahkan air lagi, digunakan pipet tetes untuk menambahkan air dengan hati – hati sampai volume permukaan cairan tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu.
 * Labu disumbat dan kemudian dikocok agar larutan seragam.


 4. Beaker Glass
Gelas yang berbentuk tabung untuk mereaksikan zat. Namun pengunaannya kurang akurat dibandingkan dengan labu ukur maupun Erlenmeyer. Volume beaker glass yang umum di laboratorium ada yang 50 , 100 dan 250 ml.

 5. Tabung Reaksi
Berupa peralatan gelas berbentuk tabung panjang terbuka yang biasanya digunakan untuk mereaksikan zat. Bedanya, zat yang direaksikan dalam tabung ini hanya dalam jumlah yang kecil.


 7.Bulb Pipet
Merupakan alat pendukung pipet tetes untuk kemudahan penghisapan zat kimia cair. Bulb pipet ada yang berukuran kecil hingga sedang seperti pada pipet tetes, ataupun yang berukukuran besar seperti pada buret.

8.Gelas Ukur
Berbentuk tabung yang alasnya membentuk lonjongan yang lebih besar dari mulutnya. Alat ini digunakan untuk mengukur bahan yang akan direaksikan dalam Erlenmeyer, labu ukur, maupun beaker glass agar ukuran nya tepat baik volum maupun molar.

9. Pipet Ukur
Prinsip kerjanya sama dengan pipet hisap, namun dapat digunakan sekaligus sebagai alat ukur zat yang akan direaksikan.

















Bab V
Penutup

5.1. Kesimpulan
Dalam melakukan praktikum kimia, mahasiswa harus mengetahui  alat alat dan bahan kimia agar dalam pelaksanaan eksperimen, kita dapat melakukannya dengan baik dan maksimal serta terhidar dari kesalahan yang tidak diinginkan.

5.2. Saran
Agar pelaksanaan praktikum berjalan sesuai dengan  mahasiswa dapat mengguanakan alat dan bahan sesuai kebutuhan dan memperhatikan  fungsi dan bahayanya masing masing dari alat dan bahan yang dipakai.













Dactar Pustaka


Minggu, 03 Juli 2011

laporan genta


LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TANAMAN
PRAKTIKUM I
“PEMBELAHAN MITOSIS”


C:\Users\toshibs\Downloads\Untirta.png
Semester
Genap 2010/2011
Oleh
Nama          : Dedi Kuswara
NIM            : 4442090098
Kelompok  :  III

                                     


AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG
2011


Bab I
PENDAHULUAN


1.1.             Latar Belakang
Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel yang terjadi pada sel-sel somatic (sangat aktif pada jaringan meristem) yang menghasilkan dua sel anak yang memiliki genotip sama dan identik dengan sel induknya. Sedangkan meiosis, terjadi pada sel-sel germinal (gamet) dengan hasil akhir empat buah sel anak yang haploid dengan komposisi genotip yang mungkin berbeda dengan sel induknya.
Sebelum terjadinya peristiwa pembelahan sel, terdapat beberapa peristiwa penting seperti pembelahan kromosom. Dalam inti sel terdapat kromosom yaitu benda–benda halus berbentuk batang panjang atau pendek dan lurus atau bengkok. Kromosom merupakan pembawa bahan keturunan. Kromosom dapat terlihat pada tahap-tahap tertentu pada pembelahan inti. Biasanya kromosom digambarkan pada tahap metafase.
Pada saat sel aktif membelah, kromosom relatif mudah diamati dengan memperlakukan sel-sel tersebut dengan metode fiksasi dan pewarnaan sederhana. Sedangkan metode fiksasi yang digunakan adalah metode tennodifikasi dengan menggunakan pre treatment 0,002 M 8-Hydroxychinolin dan larutan fiksasi 45 %Asam aselat, yang berfungsi menghentikan pembelahan sel.
Bahan standar yang digunakan dalam pengamatan mitosis adalah selsel ujung akar bawang bombay.. Kelebihan dari bahan-bahan yang digunakan pada acara praktikum ini adalah :
a)      Komposisi dinding selnya yang tersusun atas lapisan senyawa-senyawa yang relatif mudah ditembus oleh larutan fiksatif dan pewarna.
b)      Jumlah kromosomnya tidak terlalu banyak, sehingga pengamatan terhadap masing-masing fase yang sedang berlangsung relatif mudah dilakukan.
c)      Pengamatan terhadap pembelahan mitosis dilakukan pada jaringan meristem pada suatu tanaman. Dipilihnya jaringan meristem karena pada jaringan ini sel aktif melakukan pembelahan untuk pertumbuhan.

1.2.             Tujuan
Untuk mengamati lebih jelas tahapan-tahapan pembelahan sel yang terjadi secara mitosis.





Bab II
BAHAN DAN ALAT


3.1.  Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1.      Akar ujung bombay
2.      Aceto orcein
3.      HCl
4.      Air

3.2.  Alat
Alat yang dugunakan pada praktikum ini adalah:
1.      Cawan Petridish
2.      Jarum
3.      Gelas preparat dan cover glass
4.      Pembakar Bunsen
5.      Mikroskop
6.      Pisau

























Bab III
Metode Kerja


3.1. Metode Kerja
1.      Potong ujung akar bawang sepanjang 0,5 – 1 cm
2.      Masukan dalam cawan petri yang di beri larutan HCl 1 N dan biarkan selama 10-15 menit
3.      Pindahkan kedlam cawan petri (bagian tutup) dengan posisi ujung akar di dalam cawan
4.      Tambahkan aceto orcein 2 % dan biarkan 10 – 15 menit
5.      Letakkan ujung akar  di alasi kaca benda, potong bagian ujung akar 1-2 mm , teteskan 2 tetes aceto orcein 2% dan tutup dengan kaca benda
6.      Letakkan preparat di atas api busen 2-3 kali
7.      Ketok dengan ujung pensil berkaret, kemudian tekan dengan ibu jari
8.      Amati preparat dibawah mikroskop
9.      Gambar fase profase,metaphase, anaphase, telofase.

























Bab IV
Hasil  dan Pembahasan


4.1.            Hasil
No
Gambar
Keterangan
1


Profase
2




Metaphase
3



Anaphase
4




Telofase




4.2.            Pembahasan
Dari hasil praktikum ini telah di amati  menggunakan microskop, dan disitu terdapat beberapa reaksi dan beberapa fase yang bisa di lihat, diantaranya pada gambar 1 yaitu profase, 2. Metaphase,3. Anaphase, dan 4. Telofase.
Hasil ini menunukan bahwa pada ujung akar Bombay yang telah di  beri perlakuan di atas dapat memberikan reaksi. Dan di dalamnya terdapat 4 fase mitosis.





























Bab V
Kesimpulan



5.1. Kesimpulan
Proses pembelahan mitosis pada ujung akar baawng Bombay terdapat empat fase yang berbeda yang di temukan dan dilihat dari mikroskop.  Dan dapat di simpulkan dengan penggunaaan  akar bawang Bombay dengan di tambahkan larutan aceto orcein dan HCl dapat memberikan pengaruh terhadap fase-fase yang terjadi didalamnya.